Cerpen

Tiga Episode Ingatan

June 16, 2020

Cerpen Pangerang P. Muda

Telah banyak ingatannya yang lindap. Sebagian yang bertahan mengendap, malah ia anggap hanya serupa imajinasi. Sekian tahun lampau, ia ingat pernah mengantar pulang seorang perempuan, dan di depan gerbang apartemen tempat perempuan itu tinggal, ia melamarnya. Melamar perempuan di depan gerbang apartemen, ketika itu, ia anggap amat romantis. Ia samakan dengan adegan di dalam sebuah film.

/1/

Sebelum pindah kemari, setiap pulang Lis selalu disambut anggora manis yang merengek minta dibelai. Karena aturan di apartemen ini tidak membolehkan memiliki hewan piaraan, kucing itu dia berikan ke temannya dan sekarang tidak ada lagi yang menyambutnya.

Menggeser pintu yang menuju balkon, dadanya meraup sebanyak udara yang datang meruap. Tiga puluh meter dari permukaan tanah, dia meluruskan jenjang kakinya, berselonjor di atas sofa rotan. Tatapnya mengapung nun ke air laut yang berwarna merah kesumba. Dia memejam, melayangkan otak dan otot setelah diberati aktivitas pekerjaaan sepanjang hari, sampai tertidur. Laki-laki itu muncul dan langsung pula mencecar, “Sungguh, Alissa, aku mencintaimu. Dengan kalimat apa lagi aku harus mengatakannya?”

Gelak Lis lepas. Ya Tuhan, kenapa anak ini yang datang menyatakan cinta? Tawanya dia peram, karena laki-laki itu mendadak merengkuh, mendekapnya lalu melompat bersama keluar dari pagar balkon. Saling-pilin keduanya meluncur tersedot gravitasi. Hambatan angin yang begitu deras, serasa akan meremukkan tulangnya.

Tergeragap bangun, Lis menggigil. Embus angin cukup deras menyerbu dari arah laut. Tidak cuma di alam nyata, di alam mimpi pun anak itu mengganggunya. Lis mengejap. Di depannya, senja telah habis.

Merasai tubuhnya yang penat mulai merindukan hangat air di dalam bath-tub, Lis meninggalkan balkon. Ingatannya berputar; ah, tidak, dia tidak ingin mengingat nama laki-laki itu, senyampang dia tak ingin pula mengingat entah terselip di mana kartu namanya. Dia hanya merasa perlu mengingat nama perusahaan konstruksi dan pengembang yang diwakilinya, karena itu klien lama perusahaan periklanan tempat Lis bekerja. Setelah mengepalai divisi, Lis menunjuk seorang staf untuk berhubungan dengannya, tapi anak itu ngotot dan tetap ingin berhubungan langsung dengannya, seperti sebelum-sebelumnya.

Lis tak cakap pula mengelak; perusahaan periklanan tempatnya bekerja sedang tumbuh dan gencar-gencarnya berburu sekaligus mempertahankan klien lama. Lebih tak cakap lagi dia mengalkulasi efek hubungannya: anak itu jatuh cinta padanya. Persuaan yang acap, yang kian kerap bermuara di kursi-kursi kafe sekitar perkantoran tempat kerjanya, ternyata memurupkan pula cinta anak itu.

Mengingatnya, senyum Lis jadi ringis. Laki-laki itu sebelas tahun lebih belia dari usianya yang jelang empat puluh, sampai Lis menganggapnya ‘masih anak-anak’. Dua kali terang-terangan menyatakan cinta membuat Lis terkaget-kaget, dan nyaris syok ketika anak itu ngotot mengiringinya sampai ke gerbang apartemen, sebelum berdeklamasi; bagi Lis, itu serupa ratap, “Hari ini, aku melamarmu. Alissa, bersedialah menjadi istriku.”

Lis keluar dari bath-tub. Walau semampai tubuhnya terbalut jubah mandi, saat berada di ruang tengah dia menggigil. Pintu ke balkon rupanya masih menganga, meloloskan deras angin. Setiap menutup pintu itu, dua belas lantai di atas permukaan tanah, sontak dia mendapati dirinya disergap sepi.

***

Pada kelindan memorinya, ia ingat pernah pula mengantar pulang seorang perempuan, dan di depan gerbang pagar rumah perempuan itu, ia berkata, “Maukah kamu menjadi istriku?” Ia lupa pada film apa pernah melihat adegan seorang lelaki melamar kekasihnya di depan pagar, dengan salju yang terus melayang di sekitar mereka, dan ia bermaksud menirunya. Ia anggap adegan itu amat romantis.

Meski kemudian sulit ia percaya, di suatu masa di dalam hidupnya, ia bisa nekat meminta seorang perempuan lain menjadi istrinya justru ketika ia sudah punya istri. Ia pikir itu ingatan yang absurd,sama absurdnya dengan kenyataan telah menikah dengan perempuan yang tidak ia cintai.

/2/

Sebagai istri siri, Nin memang mesti tahu diri: dia harus ikhlas disimpan di tempat yang tersembunyi. Makanya dia menduga suaminya akan membawanya ke sebuah rumah yang menyempil di pojok kampung ketika berkata, “Kita akan mengunjungi puri cinta kita. Itu kado pernikahan untuk kamu.”

Dia sempat mengelak, separuh berseloroh, “Puri? Tidak, ah. Aku takut banyak hantu bergentayangan di dalamnya.”

“Memang banyak,” balas suaminya. “Tapi hantu-hantu asmara.”

Rumah itu duduk anggun pada ketinggian sisi perbukitan. Untuk mencapainya dari jalan raya, harus melalui dua kelokan hampir setengah lingkaran. Sejak sebelum kelok pertama, kontur jalan sudah mendaki. Begitu lepas dari kelok kedua, rumah itu mulai terlihat: agak mungil, dikitari halaman yang lapang. Nin berdecak, merengek, “Aku suka, Pa….”

Setiap di bawah sana ada yang menuju puri cintanya, sejak di kelokan kedua sudah terlihat. Sembari menatapi embun menguap, Nin duduk di beranda, menerka-nerka siapa yang akan datang pagi ini. Biasanya yang paling awal tukang sayur, lalu penjual ikan, menyusul penjual jamu, dan sesekali datang pula peternak lebah madu. Seusai menawarkan jualan, pedagang keliling itu akan mengitari jalan setapak di samping pagar halaman sebelum menghilang ke kampung yang ada di belakang.

Biasanya tengah hari baru suaminya yang datang. Begitu muncul di belokan, Honda City merahnya yang sedang merayap terlihat menyala, seakan membawa bara cinta, dan dia siap-siap menyambut. Entah berapa kali dia mencandai suaminya, “Puri kita ini, memang sarangnya hantu-hantu asmara.”

Pertama kali Nin mengenal laki-laki itu di suatu sore yang kuyup diguyur hujan. Sepupunya yang juga karyawan sekaligus teman SMA laki-laki itu, mengajak menumpang di mobilnya. Nin ke kantor sepupunya itu karena ada urusan pekerjaan, dan pulangnya jadi bingung karena hujan demikian deras meruah. Laki-laki itu menawarkan tumpangan, sekaligus menawarkan sikap dan wajah simpatik, untuk Nin kagumi; laki-laki itu direktur di perusahaan tempat sepupunya bekerja, tapi tidak menampakkan sikap seorang atasan kepada bawahan pada sepupunya.

Kemudian tidak bisa lagi Nin sesali bila persuaan itu ternyata terus berepetisi, berulang-ulang dengan pesona laki-laki itu seakan sedot pompa yang tak kuat Nin tampik. Dan di suatu senja, saat Nin turun dari mobil dan sebelum mencapai pintu pagar, gerimis datang. Laki-laki itu ternyata ikut turun, mendekat dan mengagetkannya, “Maukah kamu menjadi istriku?”

Nin merasakan laki-laki itu memang memberinya kasih sayang, tapi dia tetap dihadapkan pada kenyataan: laki-laki itu juga suami dari perempuan lain. Berbagi cinta membuatnya sadar dan mesti tahu diri tak bisa merecoki suaminya dengan kunjungan yang kerap. Dan, seiring rangkak waktu, kedatangan suaminya memang mulai jarang, dan makin jarang saja setelah usia pernikahan mereka melewati tahun ketiga. Kian kerap pula Nin hanya bisa menggigit bibir, kian merasai getir.

Dengan hanya ditemani seorang pembantu, dan belum juga ada tanda-tanda rahimnya menyimpan janin, tinggal di purinya di atas bukit, Nin mulai merasa suatu saat sepi akan membunuhnya.

***

Andai bisa, ia ingin melupakan saja ingatan saat dipaksa orang tuanya, dengan ultimatum, agar ia menikahi putri pamannya. Ia tahu orang tuanya khawatir melihatnya tak henti-henti mengenang perempuan yang pernah menolak lamarannya, khawatir membuatnya memilih membujang sampai lapuk. Semacam imbalan, ia lalu diberi kepercayaan memimpin perusahaan keluarga, senyampang usia bapaknya mulai sepuh. Tak ingin dianggap aji mumpung belaka, ia bekerja sungguh-sungguh, sampai bisa membuktikan kepercayaan itu tidak sia-sia dipikulkan ke pundaknya.

Namun, takdir yang dilakoninya terus saja berkelok-kelok. Akibat sakit, istrinya meninggal; bisa jadi setelah tahu ia telah menikah siri dengan perempuan lain, ikut pula memperparah sakitnya. Belakangan ia juga tidak mampu mempertahankan istri sirinya; cekcok mulai kerap mengusik dan keluarganya terus pula bergolak mempermasalahkan.

Ketika ia melamar lagi seorang perempuan, walau pertemuannya bak cerita di dalam film, tapi ia tidak meniru-niru lagi adegan romantis dalam film. Ia merasa sudah terlalu tua meniru begitu, malah ia tidak ingat lagi tepatnya kalimat apa yang ia ucapkan ketika menyatakan suka. Perempuan itu ia lihat pertama kali di salah satu kantor cabang perusahaannya. Saat melihatnya, ia terkesima, yakin perempuan itu merupakan kelahiran kembali dari perempuan masa lalunya yang amat ia cintai tapi menolak menikah dengannya, karena begitu mirip. Seperti itu ingatannya menyimpan kejadian itu. Di depan bapaknya yang sudah sepuh, entah bisa mendengar ketika ia berseloroh, “Saya tidak mau jadi duda lapuk.”

/3/

Berada di depan rumah besar itu, Mun sontak membayangkan sedang berhadapan dengan sesosok raksasa. Pilar-pilar tinggi bergaya Eropa yang menyambut di beranda membuatnya merasa serupa liliput. Saat pintu depan berdaun ganda terpentang, sadarlah dia tubuhnya sedang tersedot masuk ke perut sang raksasa.

Di suatu pagi yang bening, seusai menghabiskan tiga malam bulan madu mereka di hotel, suaminya membawanya ke rumah itu. “Saya sudah rindu pada anak-anak,” kata suaminya, sesaat sebelum meninggalkan hotel. Ketika mobil yang mengantar berbelok masuk ke gerbang, suaminya berkata, ”Itu rumah kita.”              

Di situ tinggal pula bapak, delapan cucu, serta tiga adik suaminya dengan istri dan suami masing-masing yang telah menurunkan delapan cucu tadi. Istri dan ibu suaminya telah meninggal. Ada sembilan kamar tidur di rumah itu. Kamar terbesar bernuansa suite ditempati Mun dan suaminya. Di ruang depan, yang diisi dengan kursi-kursi besar yang mewah, Mun menghitung-hitung bisa menerima tamu sampai tiga puluh atau malah empat puluhan orang. Sedang ruang tengah, andai semua perabot disingkirkan, bisa saja dijadikan dua lapangan futsal. Serba-maha-luas pada rumah itu, membuat Mun merasa mengecil.

Hendak lepas dari telan ‘sang raksasa’, di suatu senja yang mendung, Mun memaksakan keberanian mengusul pada suaminya, “Pa, bagaimana kalau kita pindah ke rumah yang lebih kecil?”

Sedikit terperanjat, suaminya menatap heran dan berkata, “Rumah sebesar ini saja sudah penuh begini, malah mau pindah ke rumah lebih kecil?”

Sekuat tekad mempertahankan keberanian, Mun berujar lagi, “Di rumah kecil kita itu, kita tinggal berdua….”

Suaminya cepat menyela, “Jadi, kamu mau memisahkan saya dengan anak-anak? Juga dengan adik-adik?”

Belah mulut Mun seketika terkunci. Menghindari perdebatan, dia memilih mati kata.

Usia Mun dengan suaminya terpaut empat belas tahun. Saat melamarnya, usia laki-laki itu lima puluh satu sedang Mun tiga puluh tujuh tahun. Dia pimpinan dan Mun karyawan di salah satu cabang perusahaannya. Mun dilihatnya ketika berkunjung, dan jauh setelah menikah, dia membuat pengakuan bahwa begitu melihat Mun langsung terkesima dan jatuh cinta. Mun tertawa geli; perkara jatuh cinta, faktor usia muda atau tua ternyata tidak menjadi pembeda. Usia yang terpaut jauh sempat membuat Mun mengelak, tapi rupanya laki-laki yang dihadapi tipikal pantang menyerah. Sebagai karyawan, Mun tahu sedikit sejarah perusahaan tempatnya bekerja: sejak dipercaya keluarganya memimpin perusahaan, dengan kegigihannya laki-laki itu berhasil membuat perusahaan berkembang dan melahirkan cabang usaha, dan rupanya demikian pula kegigihannya meyakinkan Mun untuk menerima lamarannya.

Setelah menikah, Mun berhenti bekerja dan fokus ke rumah tangganya. Saat pamitan, dibalasnya ledekan teman-teman kerjanya, “Cinta memang tidak mengenal logika, kok.”

“Pindah dari rumah kita ini, sama saja memisahkan saya dengan anak-anak,” suaminya menyentakkan Mun dari ingatan. “Kamu kan tahu, saya sangat cinta anak-anak. Pulang ke rumah, yang membuat saya amat senang, bila sudah dikerubuti anak-anak. Mereka memang bukan darah-daging saya, hanya ponakan-ponakan saya, tapi perasaan saya mereka adalah anak-anak saya. Mereka adalah anak-anak kita, Ma….”

Anak-anak! batin Mun meratap. Anugrah yang satu itu belum juga diberikan Tuhan padanya, walau usia pernikahannya sudah jelang tahun keempat. Rumah besar ini memang selalu riuh dengan suara anak-anak, tapi Mun ingin mendengar suara anak-anaknya sendiri.

Setiap suaminya berangkat bekerja, Mun merasa penghuni rumah yang lain tidak ada lagi yang mengenalnya. Di keluasan kamar yang seakan salah satu ‘kantong udara’ di dalam perut sang raksasa, tempat Mun menyendiri, di situ dia merasa terus mengecil.

Semakin tidak tahan berada di perut sang raksasa, akhirnya Mun memutuskan akan ngotot meminta suaminya mengeluarkannya dari rumah besar itu, dari perut sang raksasa, sebelum dia habis dilumat.

***

Ingatan pada perjalanan hidupnya memang banyak yang telah lindap. Sebagian yang bertahan mengendap, malah ia anggap serupa imajinasi saja. Kerap ia termangu, berpikir jangan-jangan perjalanan hidupnya itu memang hanya sebuah cerita, atau rangkaian adegan di dalam sebuah film belaka?  ***


Pangerang P. Muda, menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Kumpulan cerpennya yang terbaru Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019). Berdomisili di Parepare.

Only registered users can comment.

  1. Pingin ketularan ‘selalu tembus media’ Pak Pangerang, bravo tulisannya menginspirasi sangat.
    👍👍👍👍👍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *