Cerpen

Tokoh Perempuan dalam Cerpen

September 15, 2020

Cerpen Nana Sastrawan

“Sempurna!”

Tokoh kita melonjak girang dari tempat duduk walaupun hatinya berdebar-debar, dia terkejut, sangat terkejut. Di hadapannya seorang perempuan mengenakan kaus dan celana jins, meskipun tak minim, kausnya teregang ketat karena dada yang montok. Rambutnya tergerai, panjang dan lurus. Wajahnya putih, mata yang jernih, bibir merah pepaya dan hidung mancung. Sungguh, semua yang terlihat adalah bukan imajinasi. Bukan juga sebuah delusi, atau ilusi. Ini adalah kenyataan. Kenyataan yang sempurna.

Sementara itu, malam semakin malam, udara menusuk tulang. Di dalam kamarnya, tokoh kita mencoba menguasai diri, dia menyalakan rokok, tangannya gemetar, pemantik tak bisa menyala meski berulang kali dijentikan. Lalu, pemantik itu jatuh. Dia segera mencari pemantik itu, tangannya meraba-raba lantai, sementara matanya tidak lepas dari sosok perempuan itu. Lampu di kamarnya mati, hanya cahaya bulan yang menembus jendela sebagai penerang gelap. Pemantik itu ditemukan oleh jemarinya.

Klik. Api menyala, seperti unggun. Rokok terbakar.

“Shhhsh….”  Asap mengepul dari mulutnya.

Tokoh kita menatap takjub, dia seolah sedang meneliti setiap lekuk dan bentuk dari perempuan itu. Mata tokoh kita kini berbinar-binar, dia baru saja menemukan sesuatu yang selama ini ada dalam benaknya.

“Sebentar, sebentar!” ucapnya.

Tokoh kita mendekati tumpukan kertas yang berada dekat printer, tangannya kemudian meraup kertas-kertas itu lalu meneliti satu demi satu, sesekali rokoknya dihisap, asap menyelimuti remang malam di kamar.

“Angel? Jasmine atau Ferrina?”

Dia terus meneliti satu demi satu kertas itu sambil sesekali membacanya. Dalam benaknya ada banyak nama-nama yang diingat yang segera dia ingin yakini bahwa nama-nama itu adalah sesuatu yang terjadi pada malam ini.

“Ah, kalau melihatmu sepertinya kau wanita …. modern! Ya modern! Kalau tidak salah …. Jane!” dia lalu mengacak-ngacak tumpukan kertas yang lain.

Cahaya bulan membantu tokoh kita mencari apa yang dia cari, malam ini memang sangat sepi, suara sepelan apapun pasti terdengar, meskipun itu suara napas sendiri. Malam yang sering orang bilang malam yang paling keparat. Bagaimana tidak, malam yang sunyi seperti ini, tokoh kita masih terjaga dalam kegelisahannya.

“Bukan!” serunya, lalu membanting kertas-kertas itu.

Dia memandang kembali perempuan itu dengan rasa putus asa. Dihisaplah rokok berulang kali untuk menghilangkan rasa gugup dan gelisah yang semakin menyerang pikirannya.

“Namaku Neneng,” ucap perempuan itu.

“Neneng?”

“Iya? Ne-ne-ng.”

“Hahaha… kau terlalu modern, nama itu terlalu udik!”

“Aku memang wanita modern diciptakan untuk mengobati kesepianmu.”

Tokoh kita terperanjat, dia sadar akan sesuatu. Kemudian dia melihat layar laptop, dibaca tulisan-tulisan yang baru saja dia ketik. Lalu, matanya terhenti di sebuah nama, kemudian dia alihkan pandangannya kepada sosok perempuan itu. Persis seperti apa yang dia tulis, tidak ada satu pun yang salah, semuanya sempurna!

***

“Kamu seorang perempuan yang hidup di kampung, segalanya terbatas. Bahkan sekolahmu saja tidak sampai atas. Tapi bicaramu seperti intelektual saja!” ucapku sambil memandang sinis kepada perempuan yang berada di depanku.

Dia sama sekali tidak terusik dengan kata-kataku, tangannya terampil mengukir garis-garis di kain, membuat pola-pola binatang dan pohon.

“Memangnya salah jika perempuan kampung sepertiku terdengar lebih cerdas?”

Aku terdiam.

“Sekarang semua orang harus cerdas kalau tidak pemilihan kepala kampung saja bisa adu jotos karena tidak memakai kecerdasan.”

“Jadi, sebagai perempuan, kamu juga bisa adu jotos?”

Dia menghentikan tangannya, mata yang jernih menatap diriku. Dadaku berdesir melihat sorot matanya, wajahnya tampak bersinar, wajah perempuan lokal yang cerdas dan berpendirian.

“Pernahkan kamu melihat seorang perempuan muda yang tampak begitu rapuh?” tanyanya.

“Pernah. Di kota, banyak perempuan menjadi rapuh karena persoalan uang dan cinta.”

“Aneh bukan? Padahal di kota perempuan-perempuan disekolahkan tinggi. Terkadang pendidikan itu tidak membantu sama sekali untuk seseorang menjadi bijaksana dan dewasa.”

“Memangnya di sini tidak ada perempuan yang rapuh?” serangku.

“Kamu lihat sendiri di kampung ini, perempuan-perempuan bekerja sepanjang hari, bahkan terkadang melakukan apa yang biasa laki-laki lakukan. Memanggul beras, mencangkul, memotong kayu dan menggali sumur. Sejak dulu, wanita sudah ditakdirkan untuk perkasa.”

“Apakah itu artinya kamu ingin mengatakan bahwa perempuan lebih hebat dari laki-laki?” tanyaku semakin sinis.

“Setidaknya, kaum lelaki sadar bahwa perempuan itu bukan kaum yang lemah. Mereka pekerja keras dan setia, mereka juga layak untuk menjadi seorang pemimpin. Sebab, terkadang urusan rumah tangga memang dipimpin oleh perempuan,” jawabnya sambil tersenyum.

Dia kemudian melanjutkan pekerjaannya. Aku mengamati perempuan ini seluruhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sungguh perempuan kampung yang luar biasa. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan perempuan secerdas dan sekeras dia. Sepertinya dia memang bergaul, dia mengamati seluruh kejadian di negeri ini. Mungkin juga, dia rajin membaca hingga wawasannya luas. Saking asyiknya berbincang dengannya aku tidak sadar di mana awalnya kami membicarakan tentang gender. Yang jelas, aku terpesona.

Jemari lentik perempuan itu terus bekerja, menggores kain polos dengan garis-garis halus, penuh penjiwaan dia mengukirnya, tampak garis-garis itu membentuk sesuatu yang indah dan berkarakter. Khas sekali, mungkinkah dia sedang menuangkan keresahan dalam dirinya kepada sebuah kain tenun? Atau, dia memang sebenarnya perempuan yang kesepian? Tetapi tidak terlihat olehku wajah-wajah sepi dalam dirinya, tidak seperti perempuan yang aku kenal di kota. Perempuan kesepian yang duduk di sudut gelap sebuah kafe sambil sesekali menenggak wine.

Perempuan yang duduk di kafe itu berwajah cantik, tubuh yang proporsional dan berpendidikan tinggi, namun itu semua tertutup oleh kemuraman yang terpancar dari raut mukanya. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu naik ke atas panggung kafe, dia meliukan tubuhnya mengikuti suara musik. Kemabukannya membuat perempuan itu semakin menikmati alunan musik, semua mata lelaki memandang dengan hasrat ingin memiliki. Lelaki memang bajingan.

Musik semakin berdentum keras memekakan telingaku. Di sini, aku semakin merasa tak nyaman. Hidup di kota memang serba bising, tak ada kenikmatan yang bisa aku rasakan, seolah semuanya hanya semu dan kemunafikan. Perempuan itu semakin lincah di atas panggung, liukan tubuhnya membuat hasrat lelaki membara. Aku tertegun menyaksikan itu semua. Tanpa kusadari bergelas-gelas wine kutenggak untuk meredam hasrat. Tetapi, tubuhku semakin memanas, kepalaku lunglai, jatuh ke meja.

“Kamu mabuk?” tanya perempuan itu yang entah sejak kapan berada di sampingku.

Aku mengangkat kepala, terasa berat. Kusaksikan kafe sudah tampak lengang. Rupanya, aku memang mabuk.

“Kepalaku hanya sedikit pusing,” jawabku.

“Mari ikut aku!” ajaknya.

“Ke mana?”

“Minum bir.”

Tanganku diseret oleh perempuan itu, aku tak berdaya mengikuti gerak kakinya menuju parkiran lalu masuk ke dalam sebuah mobil.

“Kamu boleh memilikiku dengan harga cocok,” ucapnya setelah di mobil.

Ah, sialan! Mengapa aku harus bertemu dengan perempuan cantik dan cerdas di kota ini tanpa cinta. Mereka hanya butuh uang, mereka tidak butuh kedewasaan dan kebijaksaan dalam menghadapi hidup ini.

“Mau tidak?” katanya setengah memaksa.

“Aku tidak punya uang,” jawabku.

“Miskin!” Perempuan itu melemparkan tubuhku ke luar dari mobil, lalu mobil itu melaju meninggalkanku yang masih setengah mabuk.

Aku melihat kelebatan cahaya lampu mobilnya saat berbelok dan menuruni tempat parkir, masih teringat dalam benakku, liukan tubuhnya, wajahnya yang cantik dan senyumnya yang manis. Semua itu hilang dengan sekejap hanya gara-gara uang.

“Kamu melamun?” tanya perempuan kampung itu.

Kulihat matanya yang semakin jernih, dia tersenyum. Guratan ketulusan dari bibirnya membuat dadaku berdesir.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Neneng.”

***

Tokoh kita mengucek-ngucek mata, untuk kesekian kali dia ingin memastikan apakah sosok perempuan di depannya adalah tokoh yang ditulis di cerpennya. Dan untuk kesekian kali dia menyakini bahwa ini memang terjadi. Tokoh cerpennya hidup, berdiri di hadapannya dengan tersenyum manis.

“Aku di sini,” ucapnya.

“Ini mustahil!”

“Tidak. Bukankah segalanya mungkin terjadi di dunia ini.”

“Tapi …”

“Namaku terlalu kampungan bukan untuk ukuran tokoh yang cerdas, modern dan dewasa?”

“Bukan itu. Tetapi mengapa tidak semua perempuan seperti dirimu?”

“Ah, mengapa juga semua laki-laki tidak sepertimu?”

Tokoh kita terdiam, berpikir mencari jawaban.

“Semua itu pilihan, bukan?”

“Pilihan?”

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, berulang kali, semakin lama semakin keras membuat daun telinga bergetar. Tokoh kita mengangkat kepala diiringi dengan mata terbuka, sorot cahaya matahari menembus kaca jendela, menyilaukan mata. Tokoh kita melihat ke sekeliling kamar, kertas berantakan di mana-mana, buku-buku berserakan dan asbak yang penuh abu, puntung rokok.

Tokoh kita bangkit dari tempat duduknya, berjalan menghampiri pintu yang digedor, dia membuka pintu, seorang wanita gemuk berdiri dengan wajah yang bengis.

“Bayar kos, udah tiga bulan kamu tidak bayar!” bentaknya.

“Maaf Bu, honor menulis cerpenku belum turun, bisa minta tempo sebulan lagi?”

“Tidak bisa. Bayar atau minggat!”

Perempuan itu tolak pinggang, tokoh kita berpikir mungkin inilah perempuan yang sebenarnya, dan dia adalah laki-laki yang sesungguhnya.***


Nana Sastrawan lahir, 27 Juli. Dia pernah menjadi peserta Mastera Cerpen (Majelis Sastra Asia Tenggara 2013) dari Indonesia bersama. Meraih Penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Solilokui (2019). Buku Kumcernya adalah Ilusi-delusi (2015), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Dan buku cerita anak Telolet (2017), Aku Ingin Sekolah (2018), Kids Zaman Now (2018). Buku antologi puisinya, Tergantung di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2011). Penulis bisa disapa di akun Facebook, Youtube, Twitter dengan nama pena di atas, atau kunjungi www.nanasastrawan.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *