Cerpen

Tragedi Pencurian Ikan

November 30, 2021

Cerpen Aliurridha

Ini adalah kali ketiga hasil panennya jatuh. Jamal tahu ada yang mencuri ikan-ikan di empangnya. Ia bahkan tahu siapa pelakunya. Ia kenal orang itu seperti ia mengenal anak dan istrinya sendiri. Orang itu begitu dekat dengannya, sedekat urat-urat di lehernya. Ia tidak habis pikir mengapa Naldi, orang yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri, bisa setega itu mencuri darinya. Padahal jika ia minta baik-baik, mungkin Jamal akan memberinya. Meski tidak sebanyak yang dicurinya, Jamal akan ikhlas memberinya. Jamal tahu betul betapa susah hidup Naldi saat ini. Bagaimanapun juga, Naldi adalah orang pertama yang menyambutnya ketika tidak seorang pun peduli pada pendatang seperti dirinya.

“Kakak harus mendatanginya. Kalau terus seperti ini kita terpaksa pulang. Setiap panen kita selalu rugi,” kata istrinya.

Jamal hanya menjawab dengan anggukan sekenanya. Bukannya ia belum pernah mendatangi Naldi, ia sudah pernah mendatanginya ketika pertama kali ia rasakan ada yang aneh dengan hasil panennya. Naldi adalah orang pertama yang ia ceritakan sekaligus mintai bantuan untuk menjaga empangnya. Jamal sangat percaya kepada Naldi seperti halnya ia percaya kaki dan tangannya sendiri. Lagi pula Naldi adalah seorang yang disegani di kampungnya. Ia adalah orang yang suaranya selalu didengar para begundal desa—Naldi adalah ketua mereka. Selain itu, Naldi juga terkenal karena ia adalah anak dari mantan kepala desa dua periode yang memiliki tanah yang seolah tidak ada habisnya. Tetapi itu dulu, sebelum ayah Naldi salah perhitungan mencalonkan diri sebagai anggota dewan yang mau tidak mau membuatnya terpaksa menjual tanahnya. Kemudian hanya sedikit tanah yang bisa ia wariskan kepada Naldi.

“Saya tidak tahu siapa yang curi, tapi saya janji akan cari tahu dan bantu jaga. Sudah mi kita tenang saja, tidur nyenyak di rumah,” kata Naldi pada Jamal.

Jamal mengangguk setuju. Tetapi entah mengapa ketika tiba di rumah, ia merasa ada yang mengganjal di hatinya. Sebuah firasat mengatakan kepadanya untuk tidak begitu saja percaya.

Malamnya Jamal gelisah. Ia yang tidak bisa tidur dan memutuskan keluar rumah, memandangi langit yang begitu cerah. Saat itu sedang bulan purnama. Bulan terlihat bulat sempurna dan berwarna putih kekuking-kuningan. Bintang gemintang bekerlap-kerlip di kejauhan. Dihirupnya dalam-dalam udara malam yang lembap bercampur garam. Kemudian ia berjalan-jalan untuk menenangkan hatinya seperti biasa terjadi ketika ia bertengkar dengan istrinya. Ketika langkah kakinya membawanya tiba di empang miliknya yang akan panen beberapa hari lagi, dari kejauhan dilihatnya bayangan dua orang. Tangannya segera meraba pinggang, namun ia lupa membawa parang. Sial, makinya pelan. Ia tidak ingin para pencuri itu menyadari keberadaannya.

Jamal memutuskan untuk tidak pulang mengambil parang dan memilih mengintip para begundal yang mencuri ikannya. Ia berharap terang bulan akan menyingkap wajah para pencuri itu. Namun, agak susah mengenali kedua sosok itu dari kejauhan, tanpa penerangan selain cahaya bulan. Ketika ia berpikir keberuntungan tidak berpihak padanya, sorot senter yang dibawa salah satu dari mereka, mengenai wajah seseorang, wajah yang sangat dikenalnya. Naldi! Ia mengumpat begitu tahu kalau salah satu dari begundal itu adalah orang yang ia percayai seperti kaki dan tangannya sendiri. Orang yang ia janjikan jika panen baik akan ia berikan persenan. Ia sudah hampir mendatangi pencuri itu untuk bikin perhitungan. Namun, akal sehatnya datang, dan dengan rasa panas di dada, ia menyeret kakinya kembali ke rumah. Di rumah ia merokok untuk menenangkan diri sembari berharap pagi akan mematikan bara di dada. Besok ia berencana mendatangi Naldi untuk bicara baik-baik.

“Saya tidak pernah. Sumpah dah. Semalam saya minum sama brengsek ini,” kata Naldi menunjuk Feri.

“Tapi saya lihat kamu sama seorang lagi,” kata Jamal yang kemudian menoleh ke arah Feri.

“Kita[1] salah lihat mungkin,” balas Feri. “Kami semalam minum-minum di rumah Joni. Naldi sampai tidak bisa bangun karena kebanyakan pongasi[2].”

“Kita tenangkan mi dulu hati kita,” kata Naldi menyentuh pundak Jamal. Naldi bisa merasakan Jamal tengah tegang ketika ia menyentuh pundak laki-laki itu. “Saya janji bantu. Saya tidak mabuk nanti malam,” katanya lembut berusaha menenangkan Jamal.

Malamnya memang tidak ada lagi pencurian. Jamal yang tidak percaya lagi pada Naldi, mengintip ke arah empang dan melihat Naldi bersama Feri sedang minum di pondok sederhana yang ia bangun untuk berjaga-jaga kalau saja air meluap dan tanggul jebol. Di sana, keduanya benar-benar tidak melakukan apa-apa selain minum pongasi. Ia pulang dengan hati tenang. Tebersit pikiran bahwa apa yang ia lihat kemarin hanyalah tipuan mata belaka.

***

“Kita tahukah kalau Naldi jual ikannya ke tempat Ruslan?” tanya Rohman kepada Jamal. Rohman adalah seorang pengepul yang selalu mendatangi Jamal setiap panen. Ruslan juga seorang pengepul, ia selalu berjuang untuk memperebutkan hasil panen ikan dengan Rohman.

Perkataan Rohman itu membuatnya teringat pada malam ketika ia melihat Naldi bersama seseorang, malam yang sebelumnya ia sangka hanya tipuan mata belaka. Ia tahu benar kalau Naldi sudah tidak punya empang dan empang terakhirnya ia jual sebagai pelicin agar ia bisa bekerja di perusahaan tambang. Sayangnya, sekarang perusahaan tambang tempat Naldi bekerja sedang bermasalah perizinannya. Naldi sebenarnya masih memiliki sedikit tanah yang bisa ia tanami untuk berkebun. Tetapi polusi dari aktivitas tambang dulu pernah merusak apa yang ditanamnya. Itu membuatnya malas mencoba lagi. Dan, ia memang bukan tipe yang cocok hidup bertani, ia lebih suka bekerja mendapatkan gaji pasti setiap bulan. Jamal juga tahu benar kalau Naldi tidak akan punya sedikit pun modal untuk membeli ikan yang kemudian akan ia jual ke pengepul. Ia tahu benar kondisi keuangan Naldi saat ini. Ia merasa tahu semua yang terjadi di sekitar desa tempatnya mukim. Jika ada satu yang tidak diketahuinya—yakni Rohman sebenarnya sudah tahu kalau ikan-ikan yang dijual Naldi adalah hasil curian dari empang Jamal; Rohman mengatakan itu lantaran ia kesal kepada Naldi yang tidak mau menjual hasil curian itu padanya, dan malah menjualnya kepada Ruslan.

Sebenarnya Jamal tidak mau mendatangi Naldi karena ia tahu segalanya akan sia-sia, Naldi pasti akan menyangkal apa yang diperbuatnya, dan ia juga tidak memiliki bukti untuk menuduhnya. Jamal benar-benar tidak mau cari ribut, tapi ia tidak tahan juga mendengar omelan istrinya. Ia juga tidak mau apa yang dikatakan istrinya terjadi; mereka terpaksa pulang ke kampung halaman setelah gagal di perantauan. Tidak ada yang lebih ditakutkannya selain pulang membawa kegagalan. Ia pasti akan dikucilkan keluarganya di kampung. Ia juga akan dihina mertua yang telah memberinya modal hidup di perantauan.

“Saya bilang saya tidak tahu. Kau masih paksa-paksa,” kata Naldi ketika Jamal terus mendesaknya untuk mengaku dan berhenti mencuri di empangnya. Jamal mengatakan ia bersedia memaafkannya asal Naldi berjanji tidak mengulangi lagi. “Saya sudah tidak permasalahkan kita tidak bagi hasil panen seperti yang kita janji. Saya ngerti kita sedang susah. Banyak bibit yang tidak berkembang.”

Jamal hampir saja meledak begitu mendengar Naldi menyebut bibitnya tidak berkembang. Ia tahu betul bahwa Naldi yang mencuri ikan-ikannya. Perkataan Naldi terasa seperti air garam yang disiram tepat di lukanya. Rasanya perih tiada terkira. Beruntung Jamal masih bisa menahan diri dan pulang. Ia pulang dan lanjut mendengarkan omelan istrinya yang lebih perih dari luka yang disiram air garam.

“Ini terakhir kali. Saya janji ini terakhir kali dia mencuri. Dia tidak akan lagi mencuri dari kita,” kata Jamal kepada istrinya. Nada biacaranya lebih tinggi dari biasanya, dan itu membuat sang istri berhenti memberondongi dengan omelan.

Apa yang dikatakan Jamal kepada istrinya hari itu terbukti. Pagi itu langit teramat cerah ketika orang-orang dikagetkan dengan sesosok tubuh yang terbaring di pematang. Kepalanya telungkup masuk ke dalam kolam dengan punggung menghadap langit. Di bagian leher dan bahu kirinya terlihat seberkas warna merah yang mulai mengering. Tubuh tak bernyawa itu adalah tubuh Naldi.

Semalam Naldi kedapatan sedang mencuri di empang Jamal. Naldi tertangkap basah. Ia benar-benar sedang basah ketika Jamal datang. Ia sedang berada di empang menjaring ikan-ikan siap panen ketika Jamal dengan tiba-tiba melompat ke empang, lalu menebaskan parang ke bahunya dari belakang. Mendengar erangan Naldi, Feri bukannya menolong, malah meloncat keluar empang dan berlari kocar-kacir. Jamal terus saja mengulangi tebasannya pada tubuh Naldi hingga si pemilik tubuh tidak lagi mampu untuk sekadar mengerang.

Begitu puas menebas, Jamal menyeret tubuh Naldi dan melemparnya di pematang dekat empangnya. Tubuh Naldi dibentangkan seperti portal yang hendak menghalangi siapa pun untuk masuk ke empang miliknya. Setelah itu ia pulang ke rumah untuk mandi, membersihkan noda darah, dan merokok. Paginya ia pamit ke istrinya untuk pergi menyerahkan diri ke kantor polisi.**

 [1] kita adalah sapaan sopan untuk kamu bagi orang Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara

[2] minuman keras tradisional Sulawesi Tenggara yang dibuat dari fermentasi tape


Aliurridha, Penerjemah dan pengajar Toefl. Ia menulis esai, opini, dan cerpen. Karyanya tersebar di banyak media, luring maupun daring. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published.