Cerpen

Wak Banun

April 19, 2022

Cerpen Widjaya Harahap

Pisang emas dibawa berlayar

Masak sebiji di atas peti

Hutang emas dapat dibayar

Hutang budi dibawa mati[1]

Aku berhutang keduanya: uang dan budi kepada seseorang yang selama puluhan tahun bahkan sebersit pun tidak pernah terpikirkan olehku. Keinginanku saat ini adalah segera bertemu dengannya senyampang waktu masih ada.

Aku tak tahu persis sejak kapan mulainya. Dan dari mana asal muasalnya. Kesadaran itu terbit begitu saja. Sekonyong-konyong aku merasa berutang kepada banyak orang. Sebagiannya orang-orang yang kukenal, sisanya tidak. Sebagian dalam bentuk utang uang, sebagian lagi berupa utang kebaikan. Aku tidak tahu cara membayar utang kebaikan. Yang sudah pasti, utang uang harus segera kubayar.

Yang tidak henti-hentinya menguntitku adalah ingatan kepada Wak Banun. Letak rumahnya bersebelahan dengan rumah orangtuaku, walaupun dipisahkan hamparan tanah yang cukup luas, ditumbuhi pohon-pohon rambutan dan sawo, tidak menghalanginya mengetahui keadaan kami. Pada saat umak tidak memasak karena tidak ada beras yang bisa ditanak, dia datang dengan rantang berisi nasi, sayur daun singkong tumbuk, sambal dan ikan limbat goreng. Melihat mata umakku yang berkaca-kaca dia mengelus pundak umak. “Besok pagi ke ladang kita ya,” ajaknya. “Padi sudah masak, waktunya diketam. Burung pipit pun sudah makan duluan. Ikutlah kau mengetam ya, biar kelen kebagian merasakan beras baru. Enak nasinya, padi Arias itu.”

Dari tiga hari membantu panen di huma Wak Banun, umak mendapat lima goni padi. Aku mengiriknya malam-malam. Miangnya membuat gatal sekujur kaki, tapi bayangan kami akan punya beras setidaknya sepekan ke depan membuatku tak memedulikannya. Setelah kering dijemur, aku membantu umak menumbuk padi itu di lesung. Melepuh telapak tanganku yang kerempeng karena jarang-jarang memegang alu, juga tak kuhiraukan. Bukan cuma enak rasa nasinya beras Arias itu, selagi ditanak pun aroma wanginya sudah menggelimangi sepenuh rumah.

Di musim berladang dan musim buah-buahan (Wak Banun punya berhektar-hektar kebun durian, manggis, langsat dan rambutan) umak selalu dikasih pekerjaan. Aku ikut membantu jika libur sekolah. Upahnya lumayanlah untuk kami menyambung hidup.

Waktu itu aku dan umak dipanggil Wak Banun membantunya memetik buah rambutan dari kebun di halaman belakang rumahnya. Aku yang memanjat, umak yang mengumpulkannya ke dalam keranjang dan karung goni. Ada juga Bang Ril, anak sulung Wak Banun, yang memanjat batang rambutan yang lain. Umur Bang Ril terpaut enam tahun denganku. Aku baru tamat SD ketika dia lulus SMA. Dari atas pohon, secara tidak sengaja, kudengar Wak Banun berujar kepada umak, “Untuk apa kau bela laki-laki malas begitu. Kalian kelaparan pun dia tenang-tenang saja. Kau yang pontang-panting cari makan, dia malah enak-enak saja tidur siang.” Dia tengah menggunjingkan ayah dan menghasut umak. “Bawa anakmu. Tinggalkan saja lakimu. Tak usah sama dia pun, kelen bisa hidup.” Pastilah Bang Ril juga mendengar perkataan emaknya. Dari atas pohon kudengar suaranya setengah berteriak, “Mak!” Wak Banun langsung terdiam. Menggelegak perasaanku. Dipikirnya dia siapa, seenaknya meracuni pikiran umak agar bercerai dari ayah? Jangan mentang-mentang dia membantu waktu kami susah terus dia merasa boleh tidak semena-mena mencemooh ayahku. Bukan menghilangkan kebaikannya, tapi memang tidak semuanya pemberian. Kebanyakan adalah upah untuk tenaga kami. Tidak dari dia pun kami bisa jual tenaga kepada orang lain. Walaupun boleh dibilang banyak jasanya, tapi aku tak senang pada kelakuannya.

Di rumah, waktu ayah tak ada, kutumpahkan unek-unekku, “Tak usah lagi kita mau kalau Wak Banun menyuruh kita, ya Mak.”

“Kenapa?” tanya umak heran.

Nggak betul Uwak ‘tu, masa tadi dia ngomong begitu soal ayah.”

“Yang dicakapkannya tadi itu ada pula betulnya.”

Betul kan? Umak sudah termakan racun Uwak ‘tu.

“Tak bakal mau lagi aku disuruh-suruhnya, Lebih baik sama orang lain saja,” sambungku, sambil kuselidiki air muka umak. Tenang seperti biasa. Tak nampak ada yang merisaukannya.

“Allah yang menentukan dari mana jalan rezeki kita, Amang[2]. Tidak selalu melalui tangan orang yang menurut kita baik. Soal kebaikan itu pun hanya Allah yang tahu isi hati manusia.” Aku kehabisan kata-kata. Tapi perasaan mendongkol masih tersisa.

Setelah itu kalau ditanya macam mana suasana perasaanku terhadap Wak Banun, kubilang macam kena malaria: kadang panas, kadang dingin, kadang menggigil. Aku tetap mengerjakan suruhannya. Biarpun aku berkeras hati tak mau lagi disuruhnya, toh nyatanya tidak ada pekerjaan di tempat lain. Lagipula ini kan hanya senyampang liburan sekolah. Kalau libur sudah berakhir aku tidak akan bekerja lagi, kecuali di sore hari.

Sejauh aku bisa mengingat masa kecilku, aku anak kurus yang selalu lapar. Di rumah aku hanya bisa makan sebanyak yang dibagikan umak di pingganku. Tidak ada nasi tambuh. Kalau aku punya uang, aku jajan di sekolah. Uangku hanya cukup untuk dua buah kue, tapi itu tak bisa meredakan laparku. Makanya aku makan lima tapi mengaku makan dua.

Lantas dari mana aku mendapatkan uang untuk jajan? Sepulang dari sekolah, atau sejak pagi di hari Ahad, aku mencari kayu api. Sebagian untuk umak memasak, sebagian lagi kusimpan untuk kujual ke kedai-kedai nasi. Uang hasil jualan kayu separuh kukasihkan kepada umak yang separuh lagi untukku jajan dan beli perangko. Selain kesempatan mengambil kayu rambung waktu onderneming menumbang pohon rambung tua untuk peremajaan tanaman, aku mencari kayu api ke hutan. Di musim penumbangan, onderneming membolehkan orang kampung mengambil kayu yang mereka sisakan di lapangan. Bagian batang pohon yang berukuran besar mereka ambil untuk bahan bakar rumah asap tempat mengeringkan getah sheet[3], dan dijual kepada DSM[4] untuk memanaskan turbin mesin uap lokomotif kereta api.

Pada hari-hari sekolah, Wak Banun adalah satu-satunya yang berjualan makanan di SMP-ku. Aku selalu menunggu waktu istirahat. Begitu jam istirahat tiba, kontan si Uwak dirubungi anak-anak yang mau jajan. Kerumunan yang demikian ribut dan makan sambil berebut sehingga si Uwak sering luput mengawasi. Membuka peluang untuk curang membayar. Setiap kali aku mengaku hanya makan dua dan membayar dua. Padahal lima kue yang sudah kumasukkan ke dalam kantong nasiku. Kecuali opak singkong yang kasat mata karena besar ukurannya, kue yang kecil-kecil itu mudah disembunyikan dalam genggaman tangan. Dan menyusupkannya ke dalam mulut tanpa ketahuan. Bertahun-tahun urusan ini tersimpan rapi sebagai sebuah rahasia yang memalukan.

Hari-hari belakangan ini, tiga puluh lima tahun setelah tamat SMP dan pergi merantau—dan tidak pernah bertemu Wak Banun lagi—aku pulang ke negeri kelahiranku, sebuah kampung kecil di pesisir Timur Sumatra Utara. Life begins at forty[5], begitu kata peribahasa. Sepuluh tahun yang lalu tatkala umurku mencecah empat puluh tahun, aku jadi lebih mengerti memaknai kebaikan dan kejelekan. Perasaan tidak suka terhadap Wak Banun berangsur berubah. Aku hanya tahu sebagian saja dari apa yang kudengar, selebihnya hanya Allah yang mengetahui. Bagaimana aku bisa membuat penghakiman tentang laku baik dan buruk? Seperti kata umak, hanya Allah yang tahu isi hati manusia. Yang kuketahui, dulu dia sering menolong keluarga kami pada saat kami susah. Tidak jarang dia memedulikanku seperti dia memperhatikan anaknya sendiri. Biarlah di hatiku hanya ada kebaikannya. Selebihnya, biarlah itu jadi urusan Allah saja. Sejak berada di Medan, ingatan tentang Wak Banun terus-menerus mengusik. Aku harus pulang ke kampung. Menjumpainya. Membuka rahasia masa kecil dan membayar utang-utangku. Selagi dia masih ada.

Di beranda rumahnya, kucium khidmat tangannya yang kurus dan renta. Tangan yang dulu menumbuk beras pulut menjadi tepung, memarut kelapa, menyiapkan adonan dan entah apa lagi. Bersabung dengan sengat panas api agar kue-kue dan jajanan untuk kami tersedia sebelum jam istirahat. Menyiapkan makanan yang telah jadi darah dan daging kami, diriku dan kawan-kawanku. Dia mengatakannya dalam bahasa yang bersahaja: supaya kami tidak lapar waktu belajar. Sesuatu yang selama ini tak pernah terpikirkan untuk kusyukuri. Sesuatu yang aku tidak pernah berterima kasih. Kupegangi terus tangannya. Perlahan-lahan kurasakan hatiku mulai meleleh.

Kuulurkan bingkisan berisi kain songket Talawi ke pangkuannya.

“Semoga jadi sigolom tondi[6] untuk Uwak,” kataku. Dibukanya bungkusan dengan tangan gemetar. Bibirnya yang terkatup bergerak-gerak, seperti menggelatuk. Memerah matanya menahan genangan yang menunggu tumpah.

“Aku mau minta Uwak mengikhlaskan. Jangan sampai tidak.” ujarku terbata-bata.

“Apalah rupanya yang mesti uwak ikhlaskan?”

“Dulu Uwak tak tahu, banyak jajanan yang tidak kubayar. Kumakan lima, yang kubayar dua. Sekarang aku mau membayarnya tapi tak lagi ingat berapa jumlah pastinya. Lebih kurangnya tolong Uwak mengikhlaskan. Sudah jadi daging, sudah jadi darahku. Kalau Uwak tak ikhlas, macam mana nanti aku ditanya di Yaumil Hisab. Tak bakal bisa aku menjawabnya,” kudengar suaraku serak bercampur getar.

“Dari dulu nya sudah Uwak ikhlaskan. Tau nya Uwak kau makan lebih, tapi biarlah. Tak ada nya pulak duitmu. Lagi pula bukan kau saja. Yang lain juga begitu.”

Lamunanku mengembara ke masa-masa itu. Saat-saat aku tak punya duit dan cuma menengok saja tak berani mendekat, Uwak Banun memanggilku. Mengetahui aku tak punya uang, disuruhnya mengambil jajanan yang kumaui. Berapa pun yang kuinginkan.

“Uwak doakan besarlah hendaknya tuahmu yo Amang.” Diciuminya kain songket yang kuberikan.

Kupeluk dia. Tubuhnya terguncang-guncang. Seketika berderailah tangisnya. Aku tak kuasa menahan diri. Kami pun bertangis-tangisan. Lembut dia mengusap-usap rambutku.

Iléé bayaaa ééé …. Tak sempatlah pulak nampak umakmu, anaknya kini sudah jadi orang.” Mendengar Uwak menyebut nama almarhumah umakku, menjadi-jadilah tangisanku.

Pagi ini—hari kedua semenjak aku tiba di kampung halaman—di beranda rumah Wak Banun aku duduk berhadapan dengan Bang Ril. Lembut dielusnya bungkusan songket Talawi yang kugenggamkan kepadanya. Dari penuturannya aku baru mendapat kabar Wak Banun sudah berpulang menghadap Allah. Hari ini persis empat puluh hari kepulangannya. Aku merasakan sebuah palu besar menghantam dadaku bertalu-talu menyisakan sesak yang tiada terhingga.

Mimpiku tadi malam itu begitu nyata.***


Widjaya Harahap, penulis tinggal di Ciamis. Bergiat menulis cerpen dan puisi. Cerpennya diterbitkan pada beberapa antologi bersama.


[1] Sebait pantun klasik Melayu. Penulisnya awanama (anonim).

[2] Amang = Ayah (Bahasa Batak, Mandailing), lazim dipakai sebagai panggilan sayang kepada anak laki-laki.

[3] sheet = Jenis hasil produksi lateks yang dicetak berupa lembaran pipih lalu dikeringkan dengan cara mengasapi di dalam rumah pengasapan (gudang asap, istilah lokal).

[4] DSM = Deli Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api Deli diwarisi dari Belanda. Nama DSM masih dipakai meskipun setelah diambil alih sudah mempunyai nama baru: Djawatan Kereta Api (DKA), yang kemudian berganti nama lagi jadi PJKA.

[5] Life begins at forty = Hidup dimulai ketika berusia empat puluh (peribahasa).

[6] sigolom tondi = Idiom Batak, penggenggam semangat.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published.