Sosok

Yudhi Herwibowo: Mendobrak Batas Cerita Sejarah

February 26, 2019

Oleh Wahyu Indro Sasongko

Di dunia sastra, nama laki-laki kelahiran Palembang ini tentu sudah tidak asing lagi. Memiliki nama lengkap Yudhi Herwibowo. Ia mulai mengenal dunia literasi ketika menemukan sebuah buku catatan milik ibunya. Di dalam buku itu, Yudhi  mengetahui bahwa ibunya sering menulis puisi. Terlebih sebelumnya Yudhi tahu ibunya juga seorang pembaca. Tulisan pertama Yudhi, dimuat di media massa ketika duduk di SMP kelas 2, lalu setelah itu ia semakin rajin mengirim tulisannya di media. Namun, saat itu, keinginan untuk menggeluti dunia literasi belum sepenuhnya ada dalam benaknya.

Yudhi Herwibowo / dok. pribadi

Yudhi mengatakan, belajar menulis secara otodidak. Ia mencari dan menemukannya melalui buku-buku yang ia baca. Sampai akhirnya, nasib membawanya menempuh bangku kuliah di Solo, hingga menjadi salah satu punggawa Komunitas Pawon.  Tahun 2007, novel pertamanya yang berjudul Menuju Rumah Cinta-Mu terbit. Yudhi mengaku, sebelum tahun itu, ia banyak menulis buku-buku dalam konteks menangkap yang dikehendaki pasar, seperti buku bergenre humor dan ilmu aplikasi. Keinginan untuk mengubah jenis tulisan baru benar-benar Yudhi lakukan setelah buku trilogi Seven Samurai (2008) terbit. Novel yang berlatar belakang Negeri Sakura pada tahun 1184.

Keinginan dan berubahnya idealisme untuk menulis novel berbasis sejarah ia buktikan dengan terbitnya Pandaya Sriwijaya (2009) dan Untung Surapati (2008). Ia mengaku, buku-buku itu menjadi tonggak dan titik balik segala ide menulisnya, sampai saat ini. Novel berbasis cerita sejarah lainnya yang ia tulis adalah Halaman Terakhir (2016) yang bercerita tentang sosok Hoegeng, dan yang terbaru adalah Sang Penggesek Biola (2018) yang berkisah tentang sosok W.R. Soepratman.

Menurutnya, ide dari setiap naskah-naskah novel sejarahnya muncul dari imajinasi dan film. Jika kebanyakan penulis lain mendapatkan ide tulisannya dari buku-buku yang mereka baca, ia mengaku ide-idenya banyak ia dapatkan dari film-film yang ia tonton. Menurutnya, seorang penulis fiksi harus bisa menawarkan konsep-konsep tulisan yang tidak biasa.  Sebab ia meyakini, fiksi merupakan ide yang tidak bisa ditampung di dalam non fiksi. “Ia harus melampaui ide dari non fiksi,” kata Yudhi.

Melalui fiksi, seorang penulis bisa merayu pembacanya untuk berpihak pada seorang tokoh atau karakter dalam sebuah buku dan cerita pendek, jika di dalam non fiksi hal tersebut kemungkinan akan sulit untuk dilakukan. “Kelemahan buku sejarah tidak persuasif, tetapi kehadiran seorang penulis fiksi bisa menjadikan cerita sejarah menjadi persuasif. Seorang penulis fiksi harus mampu menghadirkan pertarungan gagasan dan ide segar dalam tulisannya,”.

Apa yang dimaksud Yudhi bisa kita temukan dari banyak cerita pendek yang ia tulis. Contohnya, dari dari buku kumpulan cerita pendek Lagu Senja yang diterbitkan Balai Pustaka (2006) mengambil sudut pandang tidak biasa, uncommon. Dalam buku itu, Yudhi mengisahkan seseorang yang jatuh ke laut, kemudian ditolong oleh manusia yang hidup di dalam laut. Atau seseorang yang menemukan sebuah pena, lalu apa saja keinginannya bisa terpenuhi setelah ia seseorang itu menulisnya. Hal-hal tidak biasa seperti itulah yang kemudian Yudhi kembangkan untuk membuat sebuah ide cerita. Terkhusus cerpen, eksplorasi Yudhi berkembang pada kumpulan cerpen selanjutnya yang berjudul Mata Air Air Mata Kumari (2010).

Satu sudut pandang yang lain dalam Yudhi berkarya, juga bisa kita temukan dalam jalan cerita Novel Pandaya Sriwijaya yang ia tulis. Dalam novel itu, Yudhi memandang keagungan Kerajaan Sriwijaya dari sudut pandang tokoh-tokoh kecil, salah satunya seorang putri yang bernama Dapuntamana. Tokoh-tokoh kecil inilah yang merangkai latar cerita tentang Sriwijaya pada abad ke 7 di tengah keterbatasan data sejarah. Namun, justru dari keterbatasan data itu, Yudhi menjadi lebih bebas menulis alur kisah  sejarah Sriwijaya.

Sebuah kebebasan menulis yang tidak ditemukannya, seperti ketika ia menulis Novel Untung Surapati. Karena data sejarah tentang tokoh tersebut sudah tertulis dalam berbagai babad sejarah Jawa, salah satunya di Babad Kartasura. Meskipun, dalam novel itu Yudhi melawan gagasan penulisan sejarah versi Belanda yang menggambarkan bahwa Untung Surapati itu seorang yang licik, suka main perempuan, culas, pengkhianat, hingga oleh pihak Belanda dijuluki sebagai “Begal Surapati”. Namun, dalam proses penulisan novel itu, Yudhi tidak mungkin mengubah jalan cerita sejarah Untung Surapati yang sebenarnya.

Menulis novel berbasis sejarah memang memiliki tantangan tersendiri. Tidak saja cerita itu sudah memiliki batasan seperti alur cerita dan penggambaran tokoh yang sudah tertulis sebelumnya. Menulis novel berbasis sejarah juga harus menjalani proses riset untuk mendapatkan data yang kuat dan akurat. Seperti ketika menulis Novel Halaman Terakhir, Yudhi harus bertemu langsung dengan keluarga Hoegeng untuk mendapatkan data untuk membangun perasaan sedekat mungkin dengan sosok Hoegeng dan Yudhi membuktikan kelihaiannya dalam menciptakan tokoh-tokoh imajinasi untuk menyiasati batasan dalam penulisan novel berbasis sejarah itu. “Saya harus mendapatkan ide tentang Hoegeng di luar sudut pandang yang sudah ditulis selama ini. Misalnya, tokoh wartawan yang saya ciptakan. Apabila tidak jeli, pembaca akan menganggap tokoh wartawan tersebut benar-benar ada. Terlibat dalam kasus Sum Kuning dengan leluasa. Selain itu, tantangan lainnya adalah rasa cemas kemungkinan akan adanya intimidasi. Mengingat tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Sum Kuning juga masih hidup,” ujarnya. Dalam perjalanan profesinya sebagai seorang penulis, sampai saat ini, Yudhi telah menghasilkan 39 buku.


Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *